Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah
di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh
hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”
(QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan.
Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam
tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap
pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
An
Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan
di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah
dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik
dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih
baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul
qadar (Zaadul Masiir, 9/191).
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Terjadinya
lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada
malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)
Tidak Perlu Mencari Tanda
Sebagian
orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun
sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir
Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari
tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah.
Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu. Tanda tersebut di
antaranya:
Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul
qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu
panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak
begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)
Kedua,
malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan
ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak
dirasakan pada hari-hari yang lain.
Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam
itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan
Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit
berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762)
Jika Engkau Dapati Lailatul Qadar
Sangat
dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih
do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah.
Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ
الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ
تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
”Wahai
Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah
lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab,
”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya
Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf,
maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih)
Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh
hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang
lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak
ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau
dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya
dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh
hari terakhir Ramadhan.
‘Aisyah mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir
(bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para
istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan
membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no.
1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk
memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk
menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih
Muslim, 8:71)
Sufyan
Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah
pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan
anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al
Ma’arif, hal. 331)
Menghidupkan Malam Penuh Kemuliaan
Adapun
yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah
menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh
malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan,
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam
qadar, ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. (Latho-if
Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan
hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an
(‘Aunul Ma’bud, 4/176). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan
lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa
melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap
pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).
Jika
seorang meraih lailatul qadar dengan i’tikaf, itu lebih bagus. Namun
i’tikaf bukanlah syarat untuk dapati malam kemuliaan tersebut. Begitu
pula bukanlah syarat mesti di masjid untuk dapati lailatul qadar.
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak,
“Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang
tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa
mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya,
mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima
amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al
Ma’arif, hal. 341).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar